Sabtu, 03 Desember 2011

Makalah Sistem Endokrin


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin disusun oleh kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin mensekresikan senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh.
Gambar 1.1 letak kelenjar endokrin pada manusia
Tabel nama dan letak kelenjar endokrin dalam tubuh.
No
Kelenjar
Nama Lain
Letak
1
Hipofisis
Kelenjar pituitari
Dibagian dasar cerebrum, dibawah hipotalamus
2
Tiroid
Kelenjar gondok
Didaerah leher dekat jakun
3
Paratiroid
Kelenjar anak gondok
Dibagian (dorsal) belakang dari kelenjar tiroid
4
Kelenjar pancreas
Kelenjar pulau-pulau langerhans
Dekat lambung
5
Kelenjar gonad
Kelenjar kelamin
Laki-laki : testis
Perempuan: ovarium
6
Kelenjar adrenalin
Kelenjar supra renalis
Di atas ginjal
7
Kelenjar timus
Kelenjar kacangan
Di daerah dada

1.2  Sistem Kerja Hormon
Kerja system endokrin lebih lambat dibandingkan dengan system saraf, sebab untuk mencapai sel target hormon harus mengikuti aliran system transportasi. Hormon bekerjasama dengan system saraf untuk mengatur pertumbuhan dan tingkah keseimbangan internal, reproduksi dan tingkah laku. Kedua system tersebut mengaktifkan sel untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya dengan menggunakan messenger kimia. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan atau messenger kimia" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, dan mempengaruhi sel target yang ada diseluruh tubuh, dan selanjutnya sel target akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan.
Messenger kimia dalam system neuron adalah neurotransmitter. Neurotransmitter bergerak melalui celah sinapsis, hingga mencapai sel target.Sel target memiliki reseptor sebagai alat untuk mengenali impuls atau rangsangan. Ikatan antara reseptor dengan hormon didalam atau diluar sel target, menyebabkan respon pada sel target.
Pada mulanya studi tentang hormon hanya dilakukan pada vertebrata. Seperti halnya pada manusia, hewan juga memiliki hormon. Pada hewan vertebrata mayoritas jenis hormonnya mirip dengan manusia. Sedangkan pada hewan tingkat rendah dan invertebrata sistem hormonnya berkaitan terutama dengan fungsi kelangsungan hidup, misalnya pertumbuhan, pendewasaan, dan reproduksi. Ada anggapan bahwa serangga tidak menghasilkan hormon dalam kehidupannya, dan apakah pada hewan invertebrata juga memiliki sitem kelenjar endokrin, contohnya pada Echinodermata? Untuk penjelasan lebih lengkap tentang system kelenjar endokrin pada mamalia,  serangga, dan Echinodermata akan dibahas pada BAB II.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Hormon pada Mamalia
Untuk system kerja hormon pada mamalia saya ambil pada manusia.
Pada manusia terdapat 8 organ utama dari sistem endokrin adalah:
1.      Hipotalamus
2.      Kelenjar hipofisa
3.      Kelenjar tiroid
4.      Kelenjar paratiroid
5.      Pulau-pulau pancreas
6.      Kelenjar adrenal
7.      Indung telur
8.      Buah zakar
Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.
Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar hormon lainnya yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. Jika kadar hormon kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi dan mereka berhenti melepaskan hormon. Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa.
Berikut uraian penjelasan dari poin-poin diatas.
1.   Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian dari otak besar yang mengatur homeostasis tubuh dengan pengaturan bagian dalam tubuh seperti detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan air, dan sekresi dari kelenjar pituitary. Kelenjar pituitary adalah kelenjar hipofisis.
1.   Kelenjar hipofisis
Kelenjar hipofisis terletak di dasar otak besar. Ukurannya sebesar butiran kacang tanah. Kelenjar ini terbagi atas bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar buntu terbesar. Dia menghasilkan hormon yang berfungsi untuk mengatur kerja beberapa kelenjar hormon lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis sering disebut kelenjar utama atau master gland.
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar buntu adalah:
·         Harmon pertumbuhan. Berfungsi untuk mempengaruhi pertumbuhan tubuh. Bila hormon ini diproduksi secara berlebihan, dapat menyebabkan pertumbuhan raksasa (gigantisme). Kelenjar pituitary merangsang pengeluaran hormone pertumbuhan (Growth hormone/ GH). Pengeluaran hormone GH dirangsang oleh hormone pelepas pertumbuhan (Growth hormone relasing factor/ GGHRF) yang di reproduksi oleh hipotalamus. Selain itu terdapat juga hormone yang fungsinya berlawanan dengan GHRF, yaitu hormone pelepas yag sifatnya menghambat (Growth hormone relasing-inhibits factor/ GHRiF) yang juga dihasilkan oleh hipotalamus.
·         Hormon yang mengontrol produksi kelamin
Gonadotropic hormone (FSH dan LH)
1.     FSH (Folikel Stimulating Hormon)
Fungsi:
-       Pada perempuan= merangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel dalam ovarium
-       Pada laki-laki= mengatur perkembangan testis dan merangsang spermatogenesis
2.     Luteining Hormon
Fungsi:
-       Pada perempuan= mempengaruhi terjadinya ovulasi, membentuk korpus luteum dari sisa folikel, merangsang korpus luteum untuk mensekresikan hormone progesteron
-       Pada laki-laki= merangsang sel-sel interstitial (sel-sel leydig) dalam testis untuk mensekresikan hormone testosterone. Hormone LH pada laki-laki biasanya disebut ICSH (interstitial stimulating hormone) 
·         Harmon yang mempengaruhi kerja kelenjar anak ginjal
·         Harmon yang mempengaruhi pengeluaran air kencing
·         Harmon yang mempengaruhi kerja kelenjar gondok
·         Hormon yang mempengaruhi kontraksi dinding rahim pada saat ibu akan melahirkan
·         Harmon yang mempengaruhi produksi air susu ibu
Prolaktin (hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa) menyebabkan kelenjar susu di payudara menghasilkan susu. Isapan bayi pada puting susu merangsang hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak prolaktin. Isapan bayi juga meningkatkan pelepasan oksitosin yang menyebabkan mengkerutnya saluran susu sehingga susu bisa dialirkan ke mulut bayi.
Karena begitu besarnya peranan kelenjar hipofisis terhadap kelen­jar buntu lainnya, maka gangguan pada kelenjar hipofisis dapat mem­pengaruhi kesehatan tubuh yang cukup besar pula.

2. Kelenjar gondok (tiroid)
Letak kelenjar gondok adalah di leher, di bawah pangkal tenggorok atau jakun (lihat Gambar dibawah). Hormon yang dihasilkan adalah hormon tiroksin. Fungsi hormon ini adalah untuk mempengaruhi perkembangan mental. pertumbuhan tubuh, dan mengatur proses metabolisme.
Kelenjar tiroid dan paratiroid
http://www.anakunhas.com/wp-content/uploads/2011/07/struktur-kelenjar-tiroid-300x268.jpg
Struktur kelenjar tiroid
Kekurangan hormon tiroksin pada masa anak-anak dapat menyebabkan kekerdilan dan kemunduran mental, disebut kretinisme. Kelebihan hormon ini akan menyebabkan pertumbuhan raksasa atau gigantisme. Kelebihan hormon ini pada masa setelah dewasa dapat menyebabkan penyakit hasedow atau akromegali.

3. Kelenjar anak gondok (paratiroid)
Letaknya di dekat kelenjar gondok. Harmon yang dihasilkan disebut parathormon. Harmon ini berfungsi untuk mengatur kadar zat kapur-daIam darah. Kekurangan zat kapur (kalsium) dalam darah dapat menyebabkan kekejangan otot. Tetapi bila mengalami kekurangan hormon parathormon, maka zat kapur dalam tulang akan diambil. Akibatnya tulang menjadi keropos atau rapuh dan mudah patah.

4.    Kelenjar pulau-pulau Langerhans
Letaknya di dalam pankreas. Harmon yang dihasilkan adalah insulin sehingga sering disebut kelenjar insulin. Fungsi hormon insulin adalah untuk mengubah gula darah (glukosa) menjadi gula otot atau glikogen, yang selanjutnya akan disimpan dalam otot atau hati. Bila kadar gula darah seseorang meningkat, maka hormon insulin banyak diproduksi, untuk mengubah glukosa tersebut menjadi gula otot. Bila produksi insulinnya kurang, maka gula darah yang tinggi akan mengganggu kesehatan. Untuk itu gula darah yang berlebihan harus dikeluarkan. Pengeluarannya melalui ginjal bersama-sama urine. Orang-yang dalam urinenya banyak mengandung gula disebut menderita kencing manis atau diabetes millitus.
5.    Kelenjar anak ginjal (suprarenalis)
Letak kelenjar ini di atas ginjal, oleh sebab itu sering disebut kelenjar suprarenalis. Kelenjar ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kulit dan bagian dalam. Bagian kulit menghasilkan hormon kortison atau barman anti adison. Adison adalah suatu penyakit dengan gejala kulit menjadi merah dan dapat menyebabkan kernatian. Bagian dalam menghasilkan hormon adrenalin. Harmon ini berfungsi untuk mengubah gula otot menjadi gula darah. Jadi kerja hormon adrenalin berIawanan dengan hormon insulin. Hormon adrenalin dan hormon insulin bersama-sama mengatur kadar gula darah. Lihat bagan sederhana di bawah ini.
http://www.anakunhas.com/wp-content/uploads/2011/07/insulin-300x115.jpg

6.  Kelenjar kelamin (gonade)
Kelenjar kelamin baru berproduksi setelah seseorang mencapai masa remaja. Kelenjar ini memproduksi hormon kelamin dan sel kelamin.
Kelenjar kelamin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kelenjar kelamin pria dan kelenjar kelamin wanita.
a. Kelenjar kelamin pria, ialah testes. Kelenjar ini menghasilkan eel sperms dan hormon testosteron. Harmon ini mempengaruhi timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada laki-laki, yaitu suara menjadi lebih besar, dada tumbuh bidang, tumbuhnya jambang, jenggot, serta rambut-rambut ditempat tertentu.
b. Kelenjar kelamin wanita, ialah indung telur atau ovarium. Ini menghasilkan sel telur dan hormon estrogen. Harmon ini berfungsi membantu pernatangan sel telur dan timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, misalnya suara menjadi lebih nyaring, pembesaran buah dada, pembesaran pinggul, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hormon merupakan sistem koordinasi yang sangat penting. Kekurangan atau kelebihan hormon dapat menimbulkan gangguan proses kehidupan, misalnya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan, pertukaran zat (metabolisme dan lain sebagainya).

2.2 Hormon pada Kondisi Stres pada Manusia
Peningkatan kadar gula dalam darah juga dapat timbul dalam kondisi stress.selain dapat meningkatkan kadar gula darah, stress juga dapat menyebabkan manusia atau hewan menjadi sangat kuat secara tiba-tiba atau sebaliknya kehilangan kekuatan sama sekali , diare, buang air tanpa sadar, berkeringat dingin, terlambat menstruasi, dll. Tanggapan tubuh yang timbul dalam keadaan stress atau tertekan merupakan proses yang sangat rumit, yang melibatkan system endokrin dan system saraf simpatik. Hormone Glukokortikoid dihasilkan berupa tanggapan dalam keadaan stress. Hormone kortisol dalam Glucocorticoids adalah memproduksi dalam keadaan stress. Hormone kortisol menimbulkan peningkatan kadar gula dalam darah dengan cara merangsang hati untuk menghasilkan gula dari sumber non karbohidrat seperti protein dan lemak dan melepaskan glukosa ke dalam darah.
Proses kompleks tersebut secara sistematis ditunjukkan dalam bagan dibawah ini:




 



























                                                         
Gambar: proses didalam tubuh yang melibatkan system endokrin, system saraf simpatis pada saat menganggapi stress dari lunkungan (Previte, 1983).
Keterangan:
*) pusat arousal yaitu pusat saraf (di otak) yang berfungsi mengatur berbagai aktivitas perilaku seperti: siklus tidur-bangun, kesadaran,kesiapsiagaan, emosi, motivasi, dan tingkat penerimaan rangsang.
**)aktivitas antitimik yaitu aktifitas memlawan kerja kelenjar timus.
1.3  Sistem Hormon pada Serangga
Pada Arthropoda dari kelompok insekta menghasilkan tiga macam hormon yaitu: hormon otak, hormon ekdison, dan hormon juvenil. Ketiga hormon tersebut berfungsi untuk  mengatur proses metamorfosis.
Metamorfosis pada insekta sering kali diikuti dengan pengerusakan pada jaringan-jaringan pada fase larva digantikan dengan jaringan-jaringan dari sel-sel yang baru yang telah berdiferensiasi. Insekta tumbuh dengan cara molting yaitu pertumbuhan kutikula baru dengan meningkatkan ukuran tubuh. Ada tiga jenis pertumbuhan pada insecta:
1. Ametabola, yaitu tahapan yang tidak melalui tahap larva, contoknya pada ngengat dan kutu loncat.
2. Hemimetabola, yaitu metamorfosis yang melalui tahapan pro-nimpha yang terjadi persis setelah penetasan. Setelah itu, insekta mengalami tahap nimpha. Pada metamorfosis hemimetabola, sayap rudimen, organ genitalia, dan struktur ciri-ciri perkembangan lainnya sudah terbentuk tapi belum sempurna. Namun, organ-organ ini tumbuh dengan sempurna pada akhir molting. Contohnya dapat ditemui pada belalang dan kutu busuk.
3. Holometabola, yaitu metamorfosis yang dimulai dengan tahapn larva setelah penetasan. Larva yang mengalami molting akan tumbuh dan berukuran besar. Tahapan diantara larva yang mengalami molting dinamakan instar. Setelah tahap instar tahapan yang terakhir terbentuk pupa. Selama pembentukan pupa, terjadi proses pembentukan struktur hewan dewasa.
2.4 Kontrol Hormon dalam Pertumbuhan dan Perkembangan
A. Ganti kulit
  • Untuk tumbuh dan berkembang menjadi besar maka tubuh serangga mengalami proses ganti kulit. Pengelupasan kulit luar terjadi terlebih dahulu kemudian diganti oleh kulit yang baru.
  • Proses ini disebut dengan pergantian kulit (ekdisis) dan kulit lama yang terlepas disebut eksuvia (exuviae).
  • Proses pergantian kulit ini terjadi dengan terbentuknya lapisan endokutikula baru yang berada di bawah lapisan eksokutikula yang sudah mengeras.
  • Sebelum kulit luar atau kutikula yang lama mengelupas, epikutikula dan prokutikula yang baru telah dipersiapkan oleh sel-sel hipodermis (sel-sel epidermis) yang ada dibawahnya, kemudian sel-sel hipodermis mengeluarkan cairan hormon untuk melancarkan proses pergantian kulit.
  • Proses membesarnya tubuh serangga sampai ukuran tertentu terjadi sebelum dinding tubuh atau kutikula baru mengalami proses pengerasan (sklerotisasi).
  • Serangga ketika pertama kali muncul dari kutikula lamanya akan berwarna pucat, dan kutikulanya lunak. Dalam waktu satu atau dua jam, eksokutikula mulai mengeras dan berwarna gelap. 
  • Kebanyakan seranggga mengalami empat sampai delapan kali ganti kulit.
B. Metamorfosis
  • Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, serangga berganti bentuk selama perkembangan pasca-embrio, dan instar-instar yang berbeda tidak semuanya serupa. Perubahan ini disebut metamorfosis.
  • Perubahan selama metamorfosis dilaksanakan oleh dua proses, histolisis dan histogenesis.
  • Histolisis adalah suatu proses di mana struktur-struktur larva terpecah hancur menjadi bahan yang dapat digunakan dalam perkembangan struktur-struktur dewasa.
  • Histogenesis adalah proses perkembangan struktur-struktur dewasa dari produk-produk histolisis.
  • Sumber-sumber utama dari bahan untuk histogenesis adalah hemolimf, lemak badan, dan jaringan-jaringan larut seperti urat-urat daging larva.
  • Metamorfosis serangga dikontrol oleh tiga hormon :
1.        PTTH (hormon protorasikotropik) ;  PTTH diproduksi oleh sel-sel neurosekretorik di dalam otak dan merangsang kelenjar-kelenjar protoraks untuk menghasilkan ekdison, yang merangsang apolisis dan mendorong pertumbuhan.
2.        Hormon ekdison, berfungsi pada pengaturan proses pergantian kulit (ekdisis). Hormone ini bekerja antagonis dengan JH.
3.     JH (hormon juvenil); berperan menghambat proses metamorfosis. Merangsang perubahan serangga dari bentuk ulat ke larva. Hormone ini tidak dihasilkan ketika serangga mencapai bentuk dewasanya. Selama JH terbentuk hidroksi ekdison menstimulasi molting dan menghasilkan larva instar yang baru. JH dihasilkan oleh sel-sel di dalam korpora allataaktif dan menghambat metamorfosis, jadi mendorong perkembangan lebih lanjut larva atau nimfa.
  • Korpora allata aktif selama instar-instar awal dan biasanya berhenti menyekresi JH dalam instar pradewasa terakhir. Ketiadaan hormon dalam instar ini mengakibatkan metamorfosis.

hormon.jpg
2.5  Feromon
Beberapa jenis hewan selain menghasilkan hormon juga menghasilkan bahan kimia yang disebut feromon. Bahan ini tidak berpengaruh langsung terhadap hewan yang bersangkutan, melainkan berpengaruh terhadap hewan lain yang satu spesies. Feromon yang disekresikan ini umumnya berfungsi menarik lawan jenis untuk melakukan proses reproduksi.
Misalnya: Pada kupu-kupu jantan atau betina akan menyebarkan feromon saat mengepakkan sayapnya, sehingga feromon tersebar diudara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat dan tertarik secara seksual. Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas reproduksi dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan tertarik dan merespons terhadap feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda.
Feromon tampaknya juga memainkan peran penting dalam komunikasi serangga selain masalah reproduksi.
2.6     Sistem Hormon pada Echinodermata
        Echinodermata tidak memiliki system kelenjar endokrin yang berkembang baik, tetapi interaksi kimia kompleks termediasi dapat terjadi antara sel. Kontrol hormon pemijahan dan pematangan pada bintang laut (contoh dari filum Echinodermata) telah menerima banyak perhatian dan terdapat bukti bahwa pemijahan pada bulu babi juga mungkin dikendalikan oleh hormone.
Menurut Anonim (2005), system endokrin pada Echinodermata adalah sebagai berikut:
Tabel atas adalah system endokrin pada Echinodermata.
2.7 Fungsi Hormon pada Echinodermata
Pada Echinodermata, reproduksi aseksual, yang melibatkan autotomy bagian tubuh daregenerasi struktur yang rusak, tampaknya membutuhkan factor neurokimia yang unik. Sebuah peptide, gonad-stimulating substance (GSS, atau radial nerve factor, RNF). Terlibat dalam control reproduksi seksual dan gametonesis. Peptide hormone yang diketahui tidak meniru kelakuan GSS, yang terlokalisasi dalam saraf radial. Reinitiation meiosis pada oosit primer melibatkan GSS, maturation inducing substance (MIS) dan maturation-promoting factor (MPF). GSS bertindak dengan merangsang sel-sel folikel untuk menghasilkan MIS. MIS (1-methyladenine, 1- Meade) adalah basa purin yang berasal dari 1-methyladenosine dalam sel-sel folikel yang mengelilingi oosit.
Baik GSS dan MIS terlibat dalam merangsang debit dari gamet, di kedua jenis kelamin. Diyakini bahwa control dan koordinasi vitellogenesis pada Echinodermata dimediasi oleh steroid. Dalam beberapa spesies, nutrisi yyang digunakan dalam vitellogenesis pada awalnya disimpan dan dimobilisasi dari sel-sel caeca pyloric. Vitellin telah ditemukan di coelomcytes landak laut, menunjukkan bahwa vitellin mungkin variable, atau kelipatan situs dari production.




















BAB III
KESIMPULAN

1.      Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain.
2.      Kelenjar endokrin mensekresikan senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh.
3.      Pada manusia terdapat 8 organ utama dari sistem endokrin adalah:
1.      Hipotalamus
2.      Kelenjar hipofisa
3.      Kelenjar tiroid
4.      Kelenjar paratiroid
5.      Pulau-pulau pancreas
6.      Kelenjar adrenal
7.      Indung telurBuah zakar
4.     Hormon pada serangga
·         PTTH (hormon protorasikotropik) ;  PTTH diproduksi oleh sel-sel neurosekretorik di dalam otak dan merangsang kelenjar-kelenjar protoraks untuk menghasilkan ekdison, yang merangsang apolisis dan mendorong pertumbuhan.
·         Hormon ekdison, berfungsi pada pengaturan proses pergantian kulit (ekdisis). Hormone ini bekerja antagonis dengan JH.
·         JH (hormon juvenil); berperan menghambat proses metamorfosis. Merangsang perubahan serangga dari bentuk ulat ke larva. Hormone ini tidak dihasilkan ketika serangga mencapai bentuk dewasanya. Selama JH terbentuk hidroksi ekdison menstimulasi molting dan menghasilkan larva instar yang baru. JH dihasilkan oleh sel-sel di dalam korpora allataaktif dan menghambat metamorfosis, jadi mendorong perkembangan lebih lanjut larva atau nimfa.
5.     Hormon pada Echinodermata


DAFTAR PUSTAKA






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar