Sabtu, 14 Januari 2012

Ascomycota

ASCOMYCOTA

http://www.biology.ed.ac.uk/research/groups/jdeacon/microbes/sordari2.jpg 
sarcoscypa-coccinea_1.jpg
Figures F, G. Ascomycota.
Lebih dari 600.000 spesies Ascomycota telah dideskripsikan. Tubuh jamur ini tersusun atas miselium dengan hifa bersepta. Pada umumnya jamur dari divisio ini hidup pada habitat air bersifat sebagai saproba atau patogen pada tumbuhan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lhichenes (lumut kerak). Namun, Ascomycota kebanyakan hidup sebagai saprofit. Banyak khamir termasuk kelas Ascomycetes karena membentuk askospora. Secara aseksual, genus khamir Schizosaccharomyces ini memperbanyak diri dengan pembelahan diri melintang (Pelczar, 1986).
Kelompok jamur ini memiliki hifa yang bersekat-sekat. Ciri khas Ascomycota adalah memiliki alat pembentuk spora yang disebut Askus. Askus tersebut berkumpul dalam badan yang disebut Askokarp. Ascomycetes menghasilkan dua macam spora, yang terbentuk secara aseksual disebut konidiam, berkembang di dalam rantai ujung hifa. Macam spora ke dua dihasilkan sebagai akibat reproduksi seksual. Nama spora jamur ini disebut askopora.  Terbentuk di dalam askus berupa kantung (kimball, 1999). Contoh umum ascomycota adalah Penicilium, Xylaria dan Saccharomyces.
A.    Ciri-Ciri Ascomycota
1.      Ascomycota adalah kelompok jamur yang berkembang biak dengan membentuk spora di dalam selnya (kantung kecil) yang disebut askus.
Bentuk askus ada bermacam-macam, antara lain:
a.    Askus tanpa askokarp
b.   Askus yang askokarpny berbentuk seperti mangkok disebut aposetium.
c.    Askus yang askokarpnya berbentuk bola tanpa ostiulum disebut kleistotesium.
d.   Askus yang askokarpnya berbentuk botol dengan leher dan memiliki ostiulum disebut peritesium.
ascostructure
Ada bermacam-macam askus tersebut digunakan sebagai dasar klasifikasi tingkat kelas.
2.      Ada yang uniseluler dan ada pula yang multiseluler
3.      Talus yang terdiri dari miselium bersepta
4.      Jamur Ascomycota ada yang berwarna merah, cokelat, atau hijau. 
5.      Ada yang hidup sebagai parasit, yang menimbulkan penyakit pada tumbuhan. Dan ada juga Jamur Ascomycota yang hidup sebagai saprofit
6.      Jamur ini dapat bersimbiosis dengan ganggang hijau membentuk Lichenes (lumut kerak).
7.      Reproduksi : 
Aseksual   :  membentuk tunas, membentuk konidia;
Seksual     :  konjugasi, membentuk askospora.
B.     Jenis Jamur yang Termasuk dalam Divisi Ascomycota
1.      Kelas Hemiascomycetes
Kelompok jamur ini tidak membentuk askokarp, tidak mempunyai hifa, tubuhnya terdiri dari sel bulat atau oval yang dapat bertunas sehingga terbentuk rantai sel atau hifa senu. Contoh anggota Hemiascomycetes adalah khamir Saccharomyces dan Neurospora.
a.    Genus Saccharomyces
Jamur ini tidak memiliki hifa sebagaimana jamur yang lain. Tubuhnya terdiri atas sel bulat atau oval. Spesies yang terkenal dari genus Saccharomyces ini adalah jenis Saccharomyces cerevisae. Sel-sel Saccharomyces cerevisae dapat bertunas sehingga membentuk rantai sel yang menyerupai hifa atau hifa semu. Beberapa jenis Saccharomyces antara lain:
a.    Saccharomyces cerevisiae, khamir roti atau khamir bir, juga disebut khanir raja yang berguna dalam pembuatan roti dan alcohol.
b.   Tuac, bekerja mengubah air nira (legen) menjadi tuak.
c.    Saccharomyces ellipsoideus, mempermentasi buah anggur menjadi anggur manuman.
        Saccharomyces cerevisae dapat berkembang biak secara aseksual diawali
dengan menonjolnya dinding sel ke luar membentu tunas kecil. Tonjolan membesar dan sitoplasma mengalir ke dalamnya, sehingga sel menyempit pada bagian dasarnya. Selanjutnya nukleus dalam sel induk membelah secara mitosis dan satu anak inti bergerak ke dalam tunas tadi. Sel anak kemudian memisahkan diri dari induknya atau membentuk tunas lagi hingga membentuk koloni. Dalam keadaan optimum satu sel dapat membentuk koloni dengan 20 kuncup.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3Ysyw-irAMwysnxqFBNMqS6oJeAMrVjX96_WdwsUoD03uIqmS92-VW9dV7z2_7OMh_hDhrnzmTeCBxWGHKLuS5vA5JqvLIWH5bO8qSfR2csWnuyvx-lBfbysObxviSDl4hl_aUXSg2sAb/s320/yeastimages.jpg
Perkembangbiakan seksual terjadi jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan. Pada prosesnya, sel Saccharomyces cerevisae berfungsi sebagi askus. Nukleusnya yang diploid (2n) membelah secara meiosis, membentuk empat haploid (n). Inti-inti haploid tersebut akan dilindungi oleh dinding sel sehingga membentu askospora haploid (n). Dengan perlindungan ini askospora lebih tahan terhadap lingkungan buruk. Selanjutnya, empat askospora akan tumbuh dan menekan dinding askus hingga pecah, akhirnya spora menyebar. Jka spora jatuh pada tempat yang sesuai, sel-sel baru akan tumbuh membentuk tunas, sebagaimana terjadi pada fase aseksual.
Dengan demikian Saccharomyces cerevicae mengalami fase diploid (2n) dan fase haploid (n) dalam daur hidupnya. Saccharomyces cerevisea, memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Jamur ini digunakan dalam proses fermentasi pada pembuatan tape roti, dan pembuatan minuman beralkohol. Reaksi fermentasi yang umum melibatkan Saccharomyces cerevisiae adalah sebagai berikut:
C6H12O6 = 2 C6H5OH + CO2 + 2 ATP
Pada pembuatan minuman beralkohol, kadar alkohol yang terbentuk dibatasi oleh penghambatan aktivitas khamir pada kadar yang berbeda, yaitu 3% - 5% pada pembuatan bir dan hingga 14% pada pembuatan minuman anggur. Jika minuman beralkohol memiliki kadar lebih dari itu berarti ke dalamnya ditambah alkohol atau difermentasi lanjut dengan destilasi.
Pada pembuatan roti, gas CO2 yang terbentuk akibat proses peragian menyebabkan adonan mengembangnya dan alkohol yang terbentuk akan hilang dengan sendirinya karena proses pembakaran.
b.   Genus Neurospora
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy0oEEyVBOlOEgt0c02j6vlJC6SAS1fkssqh6nGZCcsCyHjDzl0IHpO3nihAJjaAgebdNv56fNESJjdR8dVOBgpqTR_kNW0HzMCkdP6TfSuF4ZrsAXxAa0foXUg7ejWN82fQiKcRq-RU7C/s1600/monilia-sp.jpeg
Neurospora mudah ditemukan di bekas kayu terbakar pada musim penghujan, konidinya berwarna oranye. Jika dengan mikroskop, konidia jamur ini tampak berderet membentuk rangkaian spora yang tumbuh menurut arah jari-jari. Di Jawa Barat, jamur ini digunakan untuk pembuatan oncom, yaitu tempe dengan bahan dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah. Jamur ini banyak digunakan para ahli sebagai bahan penelitian sitogenetika.
Semula, sebelum diketahui fase perkembangbiakan seksualnya, jamur ini dimasukkan ke dalam golongan Jamur Tidak Sempurna atau Fungi Imperfecti dan diberi nama Monilla sithophila. Sejak penemuan fase seksualnya oleh B.O.Dodge pada tahun 1926, bahwa jamur ini menghasilkan askus maka jamur ini dimasukkan ke dalam golongan Ascomycota. Sedangkan fase aseksualnya sudah lama diketahui, yaitu sejak tahun 1843.
2.      Kelas Plectomycetes
Kelas ini bercirikan adanya askokarp berbentuk bola yang disebut kleistotesium. Kelompok ini ada yang saprobe, parasit atau hipeparasit. Yang termasuk kelas Plectomycetes adalah Aspergillus dan Penicillium.

a.       Genus Aspergilus
Fase perkembangbiakan aseksual Aspergillus menghasilkan konidium yang disangga konodiofor. Ujung konidiofornya berbentuk seperti bola dengan sejumlah cabang yang masing-masing menyangga ranting konidium.
Jamur ini tumbuh sebagai saproba pada berbagai macam bahan organik, seperti roti, olahan daging, butiran padi, kacang-kacangan, makanan dari beras atau ketan, dan kayu. Pernah kamu menjumpai lapisan hijau di atas selai, kue keranjang atau roti ? coba amati di bawah mikroskop, kalian akan menemukan Aspergilus.
Jamur ini dapat bertahan hidup daam keadaan asam, kandungan gula tinggi, atau kadar garam tinggi, pada keadaan itu bakteri terhambat pertumbuhannya. Beberapa spesies jamur ini, misalnya Aspergillus pada unggas. Penyakit ini menyerang saluran pernafasan akibat menghirup udara yang mengandung spora dari kotoran yang berjamur. Meskipun jarang dijumpai, penyakit ini dapat menyerang manusia. Pada manusia, gejala penyakit ini sangat mirip dengan gejala TBC yang disebabkan bakteri.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuT8S76uWAcniFze_sfyod_2-_gcsM0_zJ9xjalg6_zRI_u19SESu4Iw4gfyxhorcyY-2p5xszDgJVfr86kd9TKRCYDbGwA_0KlYd9P7am6qgfbDNv1MlUMoiN2kyFvKjSE2mchq6Nhkc4/s200/070628071623-large.jpg
Asprgilus flavus menghasilkan alfatoksin, suatu senyawa racun yang diduga menyebabkan kanker hati. Jamur ini dapat dijumpai pada kacang tanah atau produk makanan yang terbuat dari kacang tanah. Oleh karenanya, hindarilah mengkonsumsi kacang tanah yag sudah tidak segar atau produk makanan dari kacang tanah yang permukaannya mulai berubah warna. Aspergillus ada juga yang bermanfaat bagi manusia, seperti A.niger menghasilkan asam sitrat dan A.oryzae yang menghasilkan enzim amylase untuk merombak amilum dalam pembuatan minuman beralkohol, juga digunakan dalam pembuatan kecap, tahu, dan tacco.
b.   Genus Penicillium
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcQjaJlEJBZ0iCxApkr-QNMRV9SBJZAyb1roL7kFPTtyoeOSs036N2c_0toyQ4tCPZCY75WJFjLWE_tg7bqbQeOGsFmGkbYtpdqzk8kgBfnQVF34a6mMtBnRo0PbvXPIw6z3KnQQS8MDgh/s1600/images.jpeg
Pada tempat-tempat yang ditumbuhi Aspergillus dapat juga ditemikan Penicillium. Fase aseksual jamur ini menghasilkan konidium yang disangga oleh konidiofor. Berbeda dengan Aspergillus, konidiofor Penicillium becabang-cabang, dan masing-masing menyangga sekumpulan cabang yang lebih pendek.
Beberapa spesies Penicillium digunakan dalam pembuatan keju, seperti P. Camemberti dan P. Requoforti yang membrikan aroma khas pada keju P. Notatum dan P. Chrysogenum menghasilkan penisilin. P.digitarum dan P.italicum dapat menyebabkan kerusakan pada buah jeruk P.expansum menyebabkan buah apel membusuk di tempat penyimpanan. Dan pernahkah kalian menjumpai beras berubah menjadi berwarna kunng saat disimpan ? beras semacam ini sering disebut “yellow rice”. Penyebabnya adalah P.islandicum.
            Reproduksi aseksual kedua jamur ini adalah dengan pembentukkan konnidium dalam rantai pada konidiofor. Sedangkan reproduksi seksualnya dengan spora yang dibentuk dalam askus. Askus-askus tersebut berkumpul dalam suatu badan yang disebut askokarp.
Ascomycota
Siklus hidup Aspergillus dan Penicillium yaitu:
a.       Aspergillus
Aspergillus hidup sebagai saproba pada bermacam-macam bahan organik,
seperti pada roti, daging yang sudah diolah, butiran padi, kacang-kacangan dan lain-lain. Koloninya berwarna abu-abu, hitam, kuning atau cokelat. Jenis-jenis Aspergillus antara lain:
1) Aspergillus fumigates, bersifat parasit yang menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan unggas
2) Aspergillus flavus, penghasil flatoksin yang diduga sebagai penyebab penyakit kanker hati. Kapang ini benyak terdapat pada kacang tanah dan makanan yang terbuat darinya.
3) Aspergillus niger, menghasilkan asam sitrat.
4) Aspergillus oryzae, untuk merombak zat pati dalam pembuatan minuman berakohol.
5) Aspergillus nidulan, parasit pada telinga menyebabkan outomikosis.
6) Aspergillus soyae, untuk pembuatan kecap.
b. Penicillium
     Kapang multiseluler ini mempunyai miselium bersekat-sekat. Ujung konidiofornya tidak melebar melainkan bercabang-cabang tadi. Penicillium, banyak terdapat pada bahan-bahan organik dan sebagai saprofit, misalnya sebagai berikut:
1)Penecillium notatum dan P. chrysogenum penghasil zat antibiotik (penisilin) yang ditemukan tahun 1929 oleh Alexander Fleming.
2)Penecillium cammemberti dan P. requefort dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas keju.
3)Penecillium italicum dan P. digitatum perusak buah jeruk masing-masing
     dinamai juga kapang biru dan kapang hijau.
4)Penecillium axpansup, menyebabkan buah apel membusuk ditempat penyimpanan.
5)Penecillium islandicum merusak beras sehingga menjadi kuning,
     maka disebut “Yellow rice”
3.      Kelas Pyrenomycetes
Ciri khas yang dimiliki adalah askokarp berbentuk khusus yang dilengkapi dengan ostiolum (lubang untuk melepas askus dan askospora). Tubuh buah seperti itu disebut peritesium, yang dapat berwarna cerah atau gelap.

C.    Reproduksi Ascomycota
Cara perkembangbiakan seksualnya dengan membentuk askospora. Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan pembentukan askospora melalui beberapa tahap, yaitu: 
a.    Perkawinan (kopulasi) antara gametangium jantan dan gametangium betina,
b.   Bersatunya plasma kedua gametangium yang disebut dengan plasmolisis, 
c.    Bersatunya inti yang berasal dari gametangium yang disebut dengan kariogami, dan 
d.   Kariogami yang menyebabkan terjadinya pembelahan reduksi, dilanjutkan dengan pembentukan askospora secara endogen menurut pembentukan sel bebas. 
e.    Di dalam askus terdapat 8 buah spora karena 2 inti diploid melakukan pembelahan meiosis menghasilkan 4 inti haploid. Setiap haploid akan membelah secara mitosis sehingga setiap askus terdiri dari 8 buah spora.

ascorepro
Gambar : Sexual Reproduction in the Ascomycota
Gambar 6.8 Perkembangbiakan seksual dan aseksual pada Ascomycotina
Gambar. Perkembangbiakan seksual dan aseksual pada Ascomycotina
Sedangkan, reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk konidium, fragmentasi, dan pertunasan.. Konidium ini dapat berupa kumpulan spora tunggal atau berantai. Konidium merupakan hifa khusus yang terdapat pada bagian ujung hifa penykong yang disebut konidiofor. Kelompok jamur ini dapat ditemui di permukaan roti, nasi, dan makanan yang sudah basi. 
Di antara Ascomycota ada yang bersel tunggal, bersel banyak membentuk miselium dan ada pula yang membentuk tubuh buah.  Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.
a)Bersel satu
Saccharomyces cerevisiae, dikenal sebagai ragi atau yeast.
b)Bersel banyak membentuk miselium
Aspergillus oryzae, untuk melunakkan adonan roti A. Wentii, bermanfaat dalam pembuatan kecap. Penicillium notatum, P.chrysogeum menghasilkan antibiotik penisilin. Neurospora crassa, diperoleh dari oncom merah atau tongkol jagung rebus, digunakan untuk penelitian sitogenetika.
c)Membentuk tubuh buah
Xylaria dan Nectaria, tubuh buah besar, hidup saprofit pada kayu yang membusuk. Dari berbagai pengamatan secara teliti terhadap jamur tidak semua dapat diketahui cara reproduksi seksualnya. Jamur-jamur yang seperti ini untuk sementara digolongkan ke dalam Deuteromycota (Fungi Imperfeti = Jamur tidak sempurna). Jika suatu saat diketahui fase seksualnya, maka jamur itu digolongkan sesuai dengan alat perkembangbiakan seksualnya. Contohnya jamur Monilia sithophilia (jamur oncom), setelah diketahui fase seksualnya membentuk askospora, maka digolongkan ke dalam divisio Ascomycota dan diberi nama Neurospora sithophilia.
D.    Contoh Ascomycota
Jamur Ascomycota yang hidup sebagai saprofit, antara lain: Saccharomyces cereviciae (khamir bir, roti, dan alkohol), Saccharomyces tuac (khamir tuak), Saccharomyces ellipsoideus (khamir anggur), Penicillium sp. (makanan dan roti busuk), dan Neurospora crassa (pembuatan oncom). Jamur Ascomycota yang tumbuh sebagai parasit adalah jamur Saccharomycosis yang menyerang pada epitel mulut anak-anak.
Contoh-Contoh Spesies Ascomycota:
a.      Saccharomyces ellipsoideus
images
   Ciri-ciri         :
Ÿ  Terdiri dari 2 jenis hifa.
Ÿ  Menggunakan reproduksi seksual.

   Peran/manfaat          :
Ÿ  Untuk pembuatan wine dari anggur.
Ÿ  Untuk pemuatan tuak dari air nira.

b.      Morchella esculenta
YAP
   Ciri-ciri         :
Ÿ  Terdiri dari 2 jenis hifa.
Ÿ  Menggunakan reproduksi aseksual.
Ÿ  Memiliki baban buah.

   Peranan/manfaat:
Ÿ  Tubuh buahnya dapat dimakan.


Sabtu, 03 Desember 2011

Makalah Morfologi Tumbuhan "Daun"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daukehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga),xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).
1.2. Rumusan Masalah
Terbentuknya bentuk-bentuk daun sangat bervariasi. Permasalahn yang muncul di antaranya yaitu :
  • Mengapa daun yang terdapat pada satu tumbuhan bisa berbeda bentuk ?
  • Mengapa daun bisa dibedakan menjadi daun tunggal dan daun majemuk ?
1.3. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
  • Agar memahami penyebab terbentuknya bentuk-bentuk daun yang berbeda-beda.
  • Agar memahami penyebab daun dapat dibedakan menjadi daun tunggal dan daun majemuk.

1.4. Manfaat
Manfaat dari amaklah ini adalah mengetahui dan memahami penyebab terbentuknya daun yang berbeda-berbeda-beda serta memahami penyebab daun dapat dibedakan menjadi daun tunggal dan daun majemuk.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Daun
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
Bentuk Daun (Morfologi)
bentuk daun
Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.
Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air. Daun segar (kiri) dan tua. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan.
Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).
2.2. Bagian-bagian Daun
Daun tumbuhan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi, mulai dari yang berbentuk duri kecil pada kaktus hingga yang berbentuk lebar pada palm. Sekalipun bentuk dan ukuran daun tampak bervariasi, pada dasarnya daun terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian basal yang berkembang menjadi pelepah (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Daun yang memiliki ketiga bagian tersebut dinamakan daun lengkap. Pada sebagian besar tumbuhan, daun hanya terdiri dari satu atau dua bagian saja, yakni helai daun saja, tangkai dan helai daun, pelepah dan helai daun, atau tangkai daun saja. Daun-daun yang demikian dinamakan sebagai daun tak lengkap.
2.3. Helaian, Apeks, dan Basal
 1. Bentuk helaian daun
Bentuk daun pada dasarnya dinyatakan berdasarkan bentuk dari helaiannya tanpa dipengaruhi oleh ada tidaknya torehan pada tepi daun. Istilah untuk menyatakan bentuk daun tersebut biasanya digunakan kata-kata yang umum untuk menyatakan bentuk suatu benda.
 2. Apeks dan pangkal
Selain bentuk helaian daun, apeks dan pangkal daun juga memperlihatkan bentuk yang beraneka ragam. Bentuk apeks daun yang sering dijumpai antara lain runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus), membulat (rotundus), rompang (truncarus), terbelah (retusus) dan berduri (mucronatus).
2.4. Pertulangan Daun
Pertulangan daun merupakan suatu karakteristik bagi daun tumbuhan. Dari segi anatomi, pertulangan daun sebenarnya merupakan suatu susunan ikatan pembuluh yang berada padahelaian daun. Pola susunan pertulangan daun sering berbeda untuk setiap spesies atau merupakan karakteristik bagi suatu kelompok taksonomi yang lebih besar. Susunan pertulangan daun dari daun tumbuhan biasanya terdiri dari:

1. Tulang daun primer (Midrib, Costa, Ibu tulang daun), yaitu tulang daun yang muncul dari dasar helaian daun dan berakhir pada apeks daun.

2. Tulang daun sekunder (tulang daun lateral/Nervus lateralis), yaitu cabang dari tulang daun primer.

3. Tulang daun tertier (Veins), yaitu tulang daun yang beruykuran lebih kecil dari tulang daun sekunder dan merupakan cabang dari tulang daun primer atau sekunder.

4. Tulang daun kuarter (Veinlets), yaitu tulang daun yang paling kecil yang masih dapat dilihat. Tulang daun inilah yang biasanya membentuk susunan pertulangan daun tertutup bila satu sama lain saling bertemu (anastomosa) atau susunan pertulangan terbuka bila tidak saling ber-anastomosa.




2.5.Tepi Daun
Bentuk, perbandingan dan struktur dari bagian-bagian daun, khususnya helaian daun (lamina) sangat bervariasi, baik diantara daun dari spesies yang berbeda maupun diantara daun dalam satu spesies (khususnya daun-daun pada kecambah dengan daun-daun pasca-kecambah). Pada daun tunggal atau anak daun dari daun majemuk, helaian daun dapat bertepi rata (integer/entire) atau bertoreh. Daun-daun dengan tepi bertoreh, torehan dapat dangkal atau dapat pula besar dan dalam . Helaian daun dengan tepi bertoreh dangkal tidak akan merubah bentuk secara keseluruhan, tetapi jika helaian daun bertoreh besar dan dalam dapat mempengaruhi bentuk daun tersebut. Torehan yang besar dan dalam tersebut biasanya mengikuti pola pertulangannya (menyirip atau menjari).
2.6. Daun Tunggal dan Daun Majemuk
Atas dasar konfigurasi helaiannya, daun dapat dibedakan menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Daun tunggal adalah daun yang helaiannya hanya terdiri dari satu helai tanpa adanya persendian di bagian dasar helaian tersebut, sedangkan daun majemuk adalah daun dimana helaiannya disusun oleh sejumlah bagian-bagian terpisah yang berbentuk seperti daun dan disebut anak daun (leaflet). Pada bagian basal helaian anak daun atau bagian basal petolulus biasanya ditemukan adanya pulvinulus (persendian daun). Adanya pulvinulus pada anak daun ini menyebabkan anak daun dapat gugur sendiri-sendiri (tidak bersamaan). Oleh karena setiap anak daun dari daun majemuk memiliki karakteristik yang sama dengan daun tunggal, kadang-kadang sulit dibedakan antara daun tunggal dengan anak daari daun majemuk, khususnya bila anak daun tersebut berukuran besar. Di bawah ini adalah dua hal yang dapat dijadikan dasar perbedaan antara daun tunggal dengan anak daun dari daun majemuk, yaitu:

1. Pada ketiak daun tunggal terdapat tunas aksilar, sedangkan pada ketiak anak daun dari daun majemuk tidak ada tunas aksilar.

2. Daun tunggal menempati bidang tiga dimensi pada batang atau dahan, sedangkan anak daun dari daun majemuk menempati satu bidang.

Pada daun majemuk dapat dibedakan bagian-bagian sebagai berikut (Gambar 26).

1. Petiolus (tangkai daun), yaitu tangkai yang terletak di antara batang (dahan) dengan anak daun terbawah atau rakhila terbawah, disebut juga sebagai bagian infrayuga serta memiliki pulvinus di bagian pangkalnya.

2. Rakhis, yaitu tangkai yang terletak di atas anak daun terbawah atau rakhila (rakhis sekunder) terbawah. Bagian rakhis yang berada di antara dua anak daun disebut bagian interyuga, sedangkan bagian rakhis yang berada di bawah anak daun teratas disebut bagian ultrayuga. Pada daun majemuk bergAnda dapat ditemukan adanya rakhila atau rakhis sekunder, yaitu cabang dari rakhis. Rakhila ini dapat bercabang lagi dan disebut rakhis tertier.

3. Petiolulus, yaitu tangkai anak daun dan biasanya memiliki suatu persendian yang disebut pulvinulus (pulvinus sekunder).

Bila dalam suatu daun majemuk anak daun muncul menyirip pada rakhis, maka daun tersebut dinamakan daun majemuk menyirip (pinnatus), sedangkan bila anak daun muncul dari satu titik pada ujung petiolus, maka daun tersebut dinamakan daun majemuk menjari (palmatus). Daun majemuk menyirip dapat imparipinnatus bila pada ujung rakhis terdapat satu anak daun, paripinnatus bila pada ujung rakhis tidak terdapat anak daun, atau interupte-pinnatus bila terdapat anak daun yang berukuran besar dan kecil yang berselang letaknya sepanjang rakhis. Daun majemuk menyirip ini dapat pula bipinnatus atau tripinnatus bila dua atau tuga kali menyirip, atau bila ditemukan adanya rakhis sekunder dan tertier. Daun majemuk dapat pula berbentuk campuran antara menjari dengan menyirip yang disebut daun majemuk digitatopinnatus atau palmatopinnatus. Pada daun seperti ini, rakhis-rakhis terseusun menjari, sedangkan anak daun terseusun menyirip pada setiap rakhis.

2.7. Modifikasi Daun



Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi. Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain.
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan.
2.8. Perkembangan Daun
Daun baru berkembang dari primordial daun yang dibentuk pada meristem apeks. Setiap primordial daun terbentuk pada bagian panggul meristem apeks pucuk. Ketika primordial daun baru terbentuk, primordial daun sebelumnya (yang lebih tua) telah melebar secara progresif, sebagai akibat aktifitas meristem di dalam daun itu sendiri. Interval waktu antara pembentukan primordial daun sebelumnya dengan primordial daun berikutnya pada meristem apeks disebut plastokron. Primordial daun pada tumbuhan dikotil biasanya terbentuk pada sebagian kecil dari diameter meristem apeks pucuk, sedangkan pada tumbuhan monokotil, primordial daun terbentuk dan berkembang pada sekeliling meristem apeks pucuk. Jadi, daun dikotil yang sangat muda tampak berbentuk seperti pasak, sedangkan daun monokotil tampak seperti kerah baju yang menutupi seluruh asspek pucuk .
Primordial daun akan terus berkembang ukurannya secara berangsur-angsur sehingga mencapai ukuran dan bentuk tertentu. Bertambahnya ukuran daun terjadi sebagai akibat bertambahnya jumlah sel yang diikuti dengan penambahan ukuran sel. Pembelahan sel berbeda-beda pada daerah tertentu dari meristem daun, sehingga terjadi aktifitas diferensial dari meristem daun yang menyebabkan terbentuknya bentuk-bentuk daun yang berbeda. Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan terbentuknya bentuk-bentuk daun yang berbeda, yaitu perbedaan fase hidup, gen dan kondisi lingkungan. Perbedaan dibentuknya bentuk-bentuk daun agar kita mudah mengenali ciri khas dari setiap spesies.Berikut perubahan struktur epidermis dan mesofil jika ditinjau dari kondisi lingkungannya :
1.Tumbuhan Xerofit à hidup pada kondisi lingkungan kering
-Ukuran daun kecil à ukuran sel kecil, dinding sel lebih tebal, jaringan pembuluh rapat.
-Stomata terlindung di bagian yang lebih dalam dari epidermis.
- Jaringan palisade umumnya lebih dari satu lapisan sel.
-Pada permukaan daun terdapat kutikula dan trikoma
-Pada tumbuhan sukulen, terdapat banyak sel parenkim yang berfungsi untuk menyimpan air

2.Tumbuhan Hidrofit à tumbuhan yang hidup di air

• Jaringan penyokong dan pelindung tereduksi, jaringan pembuluh berkurang (terutama xilem), terbentuk ruang udara yang cukup besar à aerenkim
• Epidermis à pengambilan nutrisi dari dalam air dan untuk pertukaran gas à Pada banyak tumbuhan air, epidermis berklorofil
• Kutikula tipis
• Stomata pada umumnya tidak ada. Pada daun tumbuhan air yang terapung, stomata terdapat pada permukaan atas






• Daun yang terendam dalam air termodifikasi menjadi bentuk silindris,
àmemimimalkan arus air yang melewati daun / mencegah koyaknya daun.
• Beberapa tumbuhan air memiliki dua bentuk daun berbeda : daun darat dan daun air à pengendalian ekspresi gen dalam pembentukan daun.


3.Daun pada tumbuhan yang disimpan di tempat gelap
• Lamina lebih tipis dan area permukaan yang lebih lebar dibandingkan dengan daun yang tumbuh pada kondisi cahaya normal.
– Laju fotosintesis rendah pada saat cahaya matahari penuh
– Laju fotosintesis ~ daun di tempat terbuka pada lingkungan terlindung
_
Pada awal perkembangan daun, aktifitas meristem daun menyebabkan terjadinya perpanjangan daun. Perpanjangan daun berikutnya terjadi sebagai akibat aktifitas meristem interkalar. Pelebaran daun (bifacial/dorsoventral) terjadi bila meristem tepi daun aktif melakukan pembelahan sel. Bila aktifitas meristem tepi tersebut terbatas hanya pada daerah-daerah tertentu saja, maka akan terbentuk daun yang berbagi menyirip atau majemuk menyirip. Jadi, pada dasarnya bentuk daun sangat tergantung dari perkembangannya, terutama pembelahan dan pembesaran sel. Selain itu, adanya kematian sel pada daerah-daerah tertentu selama perkembangan daun berlangsung juga dapat menentukan bentuk akhir dari suatu daun. Perkembangan daun seperti inilah yang merupakan dasar bagi terbentuknya basal daun, ujung daun, tepi daun, dan bentuk geometri daun yang berbeda-beda.











                                                                                                    
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
Primordial daun akan terus berkembang ukurannya secara berangsur-angsur sehingga mencapai ukuran dan bentuk tertentu. Bertambahnya ukuran daun terjadi sebagai akibat bertambahnya jumlah sel yang diikuti dengan penambahan ukuran sel. Pembelahan sel berbeda-beda pada daerah tertentu dari meristem daun, sehingga terjadi aktifitas diferensial dari meristem daun yang menyebabkan terbentuknya bentuk-bentuk daun yang berbeda. Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan terbentuknya bentuk-bentuk daun yang berbeda, yaitu perbedaan fase hidup, gen dan kondisi lingkungan. Perbedaan dibentuknya bentuk-bentuk daun agar kita mudah mengenali ciri khas dari setiap spesies.
3.2. Saran